Showing posts with label sejarah tempat. Show all posts
Showing posts with label sejarah tempat. Show all posts

Sunday, May 10, 2015

Asal-Usul Bandung Disebut Kota Kembang

Asal-Usul Bandung Disebut Kota Kembang

BANDUNGTahun 1896 Bandung belum menjadi kota tetapi hanya “kampung”. Penduduknya yang terdata 29.382 orang, sekitar 1.250 orang berkebangsaan Eropa, mayoritas orang Belanda. Saat itu Bandung hanyalah desa udik yang belepotan lumpur, bahkan Jalan Braga yang kemudian melegenda di Bandung masih berupa jalan tanah becek bertahi sapi dan kuda.
Pada tahun 1896 itulah “Desa Bandung” diusulkan menjadi lokasi pertemuan Pengurus Besar Perkumpulan Pengusaha Perkebunan Gula (Bestuur van de Vereniging van Suikerplanters) yang berpusat di Surabaya. Karena masih kampung, tentu saja fasilitas Bandung belum memadai sebagai kota kongres. Meneer Jacob, seorang panitia kongres waktu itu mendapat masukan dari Meneer Schenk, seorang Tuan Perkebunan (onderneming) di Priangan untuk memeriahkan dan menghangatkan dingin pegunungan dan suasana pertemuan waktu itu. Didatangkanlah Noniek-Noniek Cantik Indo-Belanda dari Perkebunan Pasirmalang. Singkat kata, kongres itu pun “sukses besar”. Bagi pengusaha perkebunan gula yang banyak datang dari Jawa Tengah dan Jawa Timur, kongres di Bandung sangat berkesan dan merasa “lekker kost zonder ongkos”. Usai kongres, para peserta lantas menebarkan istilah “De Bloem der Indische Bergsteden” (Bunganya kota pegunungan di Hindia Belanda). Tetapi sebutan “bloem” oleh pengusaha perkebunan yang puas atas “layanan” selama kongres itu lebih mengarah pada servis yang diberikan oleh Noniek-Noniek Cantik Indo-Belanda itu.
Bandung - Jalan Siliwangi
Kalau sebutan Kembang dirujukkan pada bunga dalam makna harfiah, tentu tidak tepat pada masa itu, seratus tahun lalu, karena hanya ada satu taman di Bandung. Dalam buku Wajah Bandoeng Tempo Doeloe, Haryoto Kunto menulis bahwa kembang yang dimaksud ialah Kembang Dayang yang dalam bahasa Sunda sama dengan WTS (Wanita Tunasusila) atau PSK (Pekerja Seks Komersial), sebuah istilah salah kaprah yang disebarkan oleh kalangan keblinger. Dalam makna kias, sebutan WTS bagi Bandung muncul karena kota ini akan disoleki, dirias, dihias hanya ketika akan dikunjungi pejabat negara, tamu resmi dari dalam dan luar negeri. Analogi ini cukup mengena juga.
bandung-Pagi-ini
Pada waktu kongres itu, yakni pada acara penutupannya, didatangkan juga “zangeres”, yaitu biduan/nita yang berasal dari Paris, Prancis. Sudah rahasia umum, para pengusaha perkebunan memang kaya raya sehingga hiburan apapun yang ada di Eropa akan mereka sewa dan didatangkan ke Jawa. Tapi sayang, ketika artis akan menyanyi, tiada piano di Bandung. Pada saat itu, tidak ada satu pun piano di “kampung” Bandung. Tapi untunglah, ada piano rongsokan yang bisa diutak-atik diperbaiki oleh Jan Fabricius lalu dibawa ke Societeit Concordia yang letaknya di sebelah Hotel Homann. Tapi malangnya lagi, tidak ada satu orang pun angggota panitia yang bisa main piano waktu itu. Untunglah ada Mama Homann, seorang ibu yang menjadi istri pemilik Hotel Savoy Homann di Bandung.
Gedung_Merdeka
Sekian dekade kemudian, muncullah ragam sanjungan untuk Bandung sebagai Kota Kembang, baik dalam arti harfiah maupun maknawiah. Satu lagu yang enak didengar adalah lagu Kota Kembang yang dinyanyikan oleh Tetty Kadi, biduanita era 1970-an. Sebait liriknya di bawah ini.
Kota Kembang yang selalu, sangat kurindukan
Di sana aku dibesarkan, diasuh ayah bunda,
Tiada pernah kulupakan, hingga aku dewasa

Saturday, May 9, 2015

Asal usul Kota Surabaya

Asal usul Kota Surabaya


Dahulu, di lautan luas sering terjadi perkelahian antara Ikan Hiu Sura dengan Buaya. Mereka berkelahi hanya karena berebut mangsa.Keduanya sama-sama kuat, sama-sama tangkas,sama-sama cerdik, sama-sama ganas dan sama-sama rakus.Sudah berkali-kali mereka berkelahi belum pernah ada yang menang atau pun yang kalah. akhirnya mereka mengadakan kesepakatan. "Aku bosan terus-menerus berkelahi, Buaya," kata ikan Sura. "Aku juga, Sura.Apa yang harus kita lakukan agar kita tidak lagi berkelahi?" tanya Buaya Ikan Hiu Sura sudah punya rencana untuk menghentikan perkelahiannya dengan Buaya segera menerangkan. "Untuk mencegah perkelahian di antara kita,sebaiknya kita membagi daerah kekuasaan menjadi dua. Aku berkuasa sepenuhnya di dalam air dan harus mencari mangsa di dalam air,sedangkan kamu barkuasa di daratan dan mangsamu harus yang berada di daratan. Sebagai batas antara daratan dan air, kita tentukan batasnya,yaitu tempat yang dicapai oleh air laut pada waktu pasang surut!" "Baik aku setujui gagasanmu itu!" kata Buaya.

Dengan adanya pembagian wilayah kekuasaan, maka tidak ada lagi perkelahian antara Sura dan Buaya. Keduanya telah sepakat untuk menghormati wilayah masing-masing. Tetapi pada suatu hari,Ikan Hiu Sura mencari mangsa di sungai. Hal ini dilakukan dengan sembunyi- sembunyi agar Buaya tidak mengetahui. Mula-mula hal ini memang tidak ketahuan. Tetapi pada suatu hari Buaya memergoki perbuatan Ikan Hiu Sura ini.Tentu saja Buaya sangat marah melihat Hiu Sura melanggar janjinya. "Hai Sura, mengapa kamu melanggar peraturan yang telah kita sepakati berdua? Mengapa kamu berani memasuki sungai yang merupakan wilayah kekuasaanku?" tanya Buaya. Ikan Hiu Sura yang merasa tak bersalah tenang-tenang saja. "Aku melanggar kesepakatan? Bukankah sungai ini berair.Bukankah aku sudah bilang, bahwa aku adalah penguasa di air? Nah, sungai ini 'kan ada airnya, jadi juga termasuk daerah kekuasaanku, " Kata Ikan Hiu Sura. "Apa? Sungai itu 'kan tempatnya di darat, sedang daerah kekuasaanmu ada di laut, berarti sungai itu adalah darerah kekuasaanku!" Buaya ngotot. "Tidak bisa. Aku 'kan tidak pernah bilang kalau di air itu hanya air laut, tetapi juga airsungai" jawab Hiu Sura? "Kau sengaja mencari gara-gara,Sura?" "Tidak! kukira alasanku cukup kuat dan aku memang dipihak yang benar!" kata Sura. "Kau sengaja mengakaliku.Aku tidak sebodoh yang kau kira!" kata Buaya mulai ,marah. "Aku tidak perduli kau bodoh atau pintar, yang penting air sungai dan air laut adalah kekuasaanku!" Sura tak mau kalah. Karena tidak ada yang mau mengalah, maka pertempuran sengit antara Ikan Hiu Sura dan Buaya terjadi lagi.
Pertarungan kali ini semakin seru dan dahsyat. Saling menerjang dan menerkam, saling menggigit dan memukul. Dalam waktu sekejap, air disekitarnya menjadi merah oleh darah yang keluar dari luka-luka kedua binatang tersebut. Mereka terus bertarung mati-matian tanpa istirahat sama sekali. Dalam pertarungan dahsyat ini, Buaya mendapat gigitan Hiu Sura di pangkal ekornya sebelah kanan. Selanjutnya, ekornya itu terpaksa selalu membengkok kekiri. Sementara ikan Sura juga tergigit ekornya hingga hampir putus, lalu ikan Sura kembali ke lautan. Buaya puas telah dapat mempertahankan daerahnya.
Pertarungan antara ikan Hiu yang bernama Sura dan Buaya ini sangat berkesan di hati masyarakat Surabaya. Oleh karena itu,nama Surabaya selalu dikait-kaitkan dengan peristiwa ini. Dari peritiwa inilah kemudian dibuat lambang Kota Surabaya yaitu gambar "ikan sura dan buaya". Namun ada juga sebahagian berpendapat, asal usul Surabaya berasal dari kata Sura dan Baya. Sura berarti Jaya atau selamat. Baya berarti bahaya, jadi Surabaya berarti "selamat menghadapi bahaya". Bahaya yang dimaksud adalah serangan tentara Tar-tar yang hendak menghukum Raja Jawa.Seharusnya yang dihukum adalah Kartanegara, karena Kartanegara sudah tewas terbunuh, maka Jayakatwang yang diserbu oleh tentara Tar-tar itu. Setelah mengalahkan Jayakatwang, orang Tar-tar itu merampas harta benda dan puluhan gadis-gadis cantik untuk dibawa keTiongkok. Raden Wijaya tidak terima diperlakukan seperti itu. Dengan siasat yang jitu, Raden Wijaya menyerang tentara Tar-tar di pelabuhan Ujung Galuh hingga mereka menyingkir kembali ke Tiongkok. Selanjutnya, dari hari peristiwa kemenangan Raden Wijaya inilah ditetapkan sebagai hari jadi Kota Surabaya. Surabaya sepertinya sudah ditakdirkan untuk terus baergolak.Tanggal 10 November 1945 adalah bukti jati diri warga Surabaya yaitu berani menghadapi bahaya serangan Inggris dan Belanda. Di zaman sekarang, setelah ratusan tahun dari cerita asal usul Surabaya tersebut, ternyata pertarungan memperebutkan wilayah air dan darat terus berlanjut. Di kalamusim penghujan tiba kadangkala banjir menguasai kota Surabaya. Pada musim kemarau kadangkala tempat-tempat genangan air menjadi daratan kering. Itulah Surabaya.

Legenda Paya Ni dan Secuil Cerita Masa Kecil

Legenda Paya Ni dan Secuil Cerita Masa Kecil




Apakah teman-teman pernah jalan-jalan ke Kabupaten Bireuen? Jika pernah, pasti teman-teman pernah melewati suatu kecamatan bernama Kuta Blang. Kecamatan ini terdengar asing memang, karena masih baru, hasil pemekaran dari Kecamatan Gandapura. Kalau dari Arah Banda Aceh, kecamatan ini terletak setelah Kecamatan Peusangan dan sebelum Kecamatan Gandapura. Lalu, ada apa ya dengan Kuta Blang? 

Kuta Blang merupakan tempat Ibu saya lahir dan dibesarkan oleh orang tuanya.Nyak Chik, begitu kami memanggil nenek kami dan Pon Nek adalah julukan untuk kakek. Seumur hidup saya belum pernah melihat kakek Pon Nek secara langsung dan seumur hidup pula saya tak pernah merasakan dimanja oleh seorang nenek. Nyak Chik telah renta saat saya beranjak kanak-kanak dan berselang beberapa tahun kemudian beliau menghadap Sang Khaliq. Beliau satu-satunya orang tua dari orang tua saya yang sempat saya lihat wajahnya. Sementara kakek-nenek yang lain, sudah lebih dulu dipanggil olehNya. Terkadang kangen dan terbayang sembari menebak-nebak bagaimana wajah mereka, lalu saya menyerah dan berdoa dalam hati, semoga suatu hari nanti setelah hisab, mereka akan menyapa saya dan berkata," Surprise, cucuku Bara-ah! Ini kami kakek nenekmu yang selalu kamu kangenin." Aaaaaaaaamiiiiiin 1000x1000 kali. 

Baik, kembali lagi. Jadi kan, semasa saya kecil, saya sering bermain ke Kuta Blang. Saya suka sekali, karena struktur tanah di daerah ini berpasir, saya bisa bermain pasir sepuasnya, dari membentuk berbagai gunung-gunungan di halaman hingga menjadikannya sebagai makanan utama di acara rumah-rumahan. Bunga-bunga menjadi lauk dan sayurnya. Ahahaha, menyenangkan sekali waktu itu. Tapi, di balik itu semua, ada satu hal yang sangat saya ingin lakukan di sana yang belum terwujud hingga sekarang. 

Apa itu?

Ada sebuah payau di pinggir desa kelahiran Ibu. Namanya Paya Ni. Payabermakna payau dan Ni adalah nama orang perempuan. Ada sebuah cerita menarik yang tersebar melalui mulut ke mulut tentang bagaimana asal mula payau ini ada. Cerita ini telah melegenda. Jika teman-teman berkunjung ke Kuta Blang, tanyakan bagaimana kisah Paya Ni ini pada orang-orang di sana, pasti mereka tahu. 

Tapi, bolehlah saya cerita sedikit, karena memang saya sedikit tahu tentang legenda ini. Sebenarnya dulu Pon Wa (abangnya Ibu) pernah bercerita lengkap tentang legenda ini, tapi saya saat itu masih belum cukup umur untuk merekamnya sejernih HD, jadinya, mohon maaf jika nanti cerita saya rada-rada kabur. 

Alkisah, pada zaman dahulu di daerah Kuta Blang, hiduplah sepasang suami istri yang telah lama menikah namun belum mempunyai anak. Siang malam mereka berdoa dan berusaha supaya mereka bisa mendapatkan keturunan, tetapi sang anak tak jua kunjung datang. Hingga suatu hari mereka berdua bernazar, Yaa Tuhanku, jika Engkau berikan kami keturunan, maka tak akan kami biarkan kulitnya menyentuh tanah sebelum ia menikah. 

Tak berapa lama setelah itu, si istri mengandung. Setelah genap bulannya, lahirlah seorang bayi perempuan mungil nan cantik dan diberi nama Nyak Ni. Sesuai dengan janji mereka kepada Tuhan, Nyak Ni tidak dibolehkan memijakkan kaki di tanah hingga ia menikah, maka orang tuanya membuat rumah panggung supaya Nyak Ni kecil tidak bisa menjangkau tanah. Dengan begitu, Nyak Ni hanya bermain di rumah setiap hari dan ia tidak punya teman selain ternak-ternak ayam dan bebek yang hanya bisa ia lihat melalui pintu dan jendela. 
Nyak Ni bertumbuh menjadi remaja. Orang tuanya sudah memberi tahu alasan kenapa ia selalu harus di dalam rumah. Mereka berpesan supaya Nyak Ni memegang erat pesan mereka untuk tidak turun dari rumah panggung mereka yang sederhana sampai ia menikah nanti.

Hingga akhirnya tiba saatnya Nyak Ni menikah. Orang tuanya menjodohkannya dengan perjaka kampung sebelah yang bisa diharapkan. Mereka lalu berencana membuat pesta besar dengan mengundang seluruh kerabat dan warga kampung sebelah. Dan mereka menyiapkan segala macam keperluan, pecah belah, makanan, dan beras. 

Sudah menjadi kebiasaan orang Aceh, bahwa menjemur padi sebelum menumbuknya menjadi beras adalah suatu keharusan. Begitu pula dengan orang tua Nyak Ni. Di suatu hari yang cerah, ibu bapak Nyak Ni menjemur padi yang cukup banyak di halaman rumah. Namun tiba-tiba saat tengah hari, mereka berdua harus pergi untuk suatu keperluan. Maka tinggallah Nyak Ni sendirian di rumah beserta padi yang sedang dijemur. Orang tuanya berpesan untuk menjaga padi tersebut dari ayam-ayam dan bebek rakus yang mereka punya. Sebagai alat pengusir, orang tua Nyak Ni meletakkan sebatang galah panjang yang di senderkan pangkalnya di pintu rumah. 

Nyak Ni mengikuti pesan orang tuanya, ia menjaga padi dengan baik. Namun, beberapa saat kemudian, datanglah segerombol besar ternak ayam dan bebek berebut menikmati lautan biji berwarna emas yang sedang dijemur itu. Nyak Ni mengayunkan galahnya namun ternak itu tidak berpindah. Mereka terus menerus memakan biji-bijian tersebut. Nyak Ni panik, ia tidak tahu harus bagaimana. Lalu ia ke dapur mengambil seseuatu yang bisa dilemparkan untuk mengusir ayam-ayam itu. Piring-piring dan pecah belah yang ada semua ia lemparkan tapi hewan itu tak jua pindah tempat. Sementara padi semakin sedikit, Nyak Ni semakin panik sehingga lupa akan pesan orang tuanya. Ia turun dari rumah. Memijakkan kakinya di tanah untuk pertama kalinya, mengusir ayam-ayam itu. 

Ctarrrrr! Ctarrrrrr! Ctarrrr!
Siang yang cerah tiba-tiba diwarnai halilintar. Seketika itu juga langit berubah menjadi gelap dan hujan turun deras. Tanah yang dipijak oleh Nyak Ni tiba-tiba lembek dan berair dan semakin tinggi airnya. Nyak Ni tak bisa bergerak. Ia hendak berlari menggapai rumah namun tak sampai. Sementara air semakin tinggi dan tinggi. Nyak Ni tenggelam di dalamnya, bersama rumahnya juga. Saat orang tuanya pulang, mereka tidak bisa menemukan apa-apa kecuali hamparan air yang dalam. Nyak ni telah gagal  melaksanakan pesan orang tuanya. Semuanya kini tanpa sisa, yang tinggal hanyalah genangan air yang dalam sedalam duka kedua orang tuanya. Oleh sebab itu payau itu dinamakan Paya Ni .The End.

Jadi, apa hubungannya dengan keinginan saya yang belum terealisasikan? 
Jadi begini, dulu saya sering pergi melihat-lihat Paya Ni, dan sungguh indah. Payaunya luas dan terlihat dangkal karena gambutnya tebalnya yang ditumbuhi spesies rumput yang bisa dianyam jadi tikar (ngom). Padahal sebenarnya payau itu dalam, namun belum ada orang yang mengukur kedalamannya. Di tepi-tepi payau tumbuh sejenis teratai warna warni yang harum beserta eceng gondok, juga bunga Ceurih yang paling saya sukai. Bunga Ceurih sejenis bunga talas yang hidup di payau, warnanya putih, berkelopak-kelopak, dan ukurannya itu loo, besar. Diameternya bisa sampai 15 cm. Di sisi payau sebelah sana ada bukit hijau yang indah. Nah, keinginan saya adalah pergi ke sana. Tapi saya rasa mustahil. Paya Ni memisahkan aku dengan bukit itu dan aku tidak pernah berniat untuk naik perahu/boat. Ngeri. 

Begitulah, sedikit catatan masa kecil dan legenda yang biasa saya dengar. Semoga terhibur yaa, syukur-syukur bisa bermanfaat. :)

Sejarah Bireuen




Sejarah Bireuen dan Asal Usul Julukan Kota Juang 


BireuenJulukan Kota Juang yang ditabalkan untuk Kabupaten Bireuen menarik untuk ditelusuri asal usulnya. Terlebih masih banyak orang yang tidak mengetahuinya. Bahkan mereka yang mengaku orang Bireuen sekali pun.

Tgk Sarong Sulaiman, seorang pelaku sejarah dan pejuang yang sekarang berusia 110 tahun, yang berdomisili di Desa Keude Pucok Aleu Rheng, Peudada Bireuen, saat ditemui Narit di rumahnya, kelihatan masih sehat dan ingatannya pun masih kuat.
Menurut Kepala Badan Statistik (BPS) Aceh, Syeh Suhaimi kepada Narit, Tgk Sarong merupakan salah seorang pelaku sejarah yang masih hidup. “Beliau merupakan seorang pejuang kemerdekaan negara ini, bahkan terlibat langsung dalam masa pergerakan melawan penjajahan Belanda dulu,” kata Syeh Suheimi saat melakukan sensus penduduk di Bireuen beberapa bulan lalu.

[pullquote_left]Bireuen itu berasal dari Bahasa Arab yaitu asal katanya Birrun, artinya kebajikan, dan yang memberikan nama itu juga orang Arab pada saat Belanda masih berada di Aceh[/pullquote_left]

Ditemui di kediamannya beberapa waktu lalu, Kakek Sarong yang terlihat masih bugar dengan lancar menceritakan sejarah Aceh pada umumnya dan Bireuen khususnya. Tgk Sarong pernah menjadi komandan pertempuran Medan Area tahun 1946, yang saat itu diberi gelar Kowera (Komandan Perang Medan Area).
Ayah tiga anak dan sejumlah cucu ini,  pernah ditawarkan menjadi guru ngaji di Arab Saudi, ketika dirinya bersama istri menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci pada tahun 60-an. Namun, tawaran itu ditolaknya karena sayang pada sang istri yang harus pulang ke Aceh tanpa pendamping. “Itu romansa masa lalu. Tapi, di sini (Aceh-red) saya juga menjadi guru ngaji he he he…,” katanya sambil terkekeh
Menurut pelaku sejarah yang lancar berbahasa Arab dan Inggis ini, “Bireuen itu berasal dari Bahasa Arab yaitu asal katanya Birrun, artinya kebajikan, dan yang memberikan nama itu juga orang Arab pada saat Belanda masih berada di Aceh. Kala itu, orang Arab yang berada di Aceh mengadakan kenduri di Meuligoe Bupati sekarang. Saat itu, orang Arab pindahan dari Desa Pante Gajah, Peusangan, lalu mereka mengadakan kenduri. Kenduri itu merupakan kebajikan saat menjamu pasukan Belanda. Orang Arab menyebut kenduri itu Birrun. Sejak saat itulah nama Bireuen mulai dikenal,” kata pria berkulit sawo matang yang mengaku pernah jadi guru Bahasa Arab di sebuah sekolah di Aceh tempoe doeloe.
Dengan  penuh semangat, Tgk Sarong Sulaiman menceritakan, sebelum Bireuen jadi nama Kota Bireuen yang sekarang ini, dulu namanya Cot Hagu. Setelah peristiwa itulah, nama Cot Hagu menjadi nama Bireuen. “Jadi Bireuen itu bukan asal katanya dari bi reuweueng (memberi ruang/ lowong atau celah), tetapi, Birrun itulah asal kata nama Kota Bireuen sekarang,” kata pria yang mengaku pernah berhasil memukul mundur pasukan Kolonial Belanda, saat bertempur melawan penjajahan dulu.

Asal usul Julukan Kota Juang

Adapun mengenai Bireuen dijuluki sebagai Kota Juang, menurut keterangan para orang tua-tua di Bireuen, Bireuen pernah menjadi  ibukota RI yang ketiga selama seminggu,  setelah Yogyakarta jatuh ke tangan penjajah dalam agresi Belanda. “Meuligoe Bupati Bireuen yang sekarang ini pernah menjadi tempat pengasingan presiden Soekarno,” kata almarhum purnawirawan Letnan Yusuf Ahmad (80), atau yang lebih dikenal dengan  panggilan Letnan Yusuf  Tank, yang berdomisili di Desa Juli Keude Dua, Kecamatan Juli, Kabupaten Bireuen. Narit berkunjung ke kediamannya sebelum almarhum dipanggil Yang Maha Kuasa.
Bahkan katanya, peran dan pengorbanan rakyat Aceh atau Bireuen  khususnya, dalam mempertahankan kemerdekaan Republik ini, begitu besar jasanya. “Perjalanan sejarah telah membuktikannya. Di zaman Revolusi  1945, kemiliteran Aceh pernah dipusatkan di Bireuen,” paparnya bersemangat.
Saat itu, katanya, dibawah Divisi X Komandemen Sumatera Langkat dan Tanah Karo dibawah pimpinan Panglima Kolonel Hussein Joesoef yang berkedudukan di  Meuligoe Bupati yang sekarang, pernah menjadi kantor Divisi X dan rumah kediaman Panglima Kolonel Hussein Joesoef.  “Waktu itu Bireuen dijadikan sebagai pusat perjuangan dalam menghadapi setiap serangan musuh. Karena itu pula sampai sekarang, Bireuen mendapat julukan sebagai Kota Juang,” katanya.
Presiden Soekarno, lanjut Yusuf Tank, juga pernah mengendalikan pemerintahan RI di rumah kediaman Kolonel Hussein Joesoef, yang bermarkas di Kantor Divisi X di Meuligo Bupati Bireuen yang sekarang. “Bireuen pernah  menjadi ibukota RI ketiga, setelah jatuhnya Yogyakarta Ibukota RI yang kedua, kembali dikuasai Belanda. Kebetulan Presiden Soekarno juga berada di sana saat itu,menjadi kalang kabut. Akhirnya  Soekarno memutuskan mengasingkan diri ke Bireuen pada Juni 1948, dengan pesawat udara khusus Dakota.yang dipiloti Teuku Iskandar. Pesawat itu turun di lapangan Cot Gapu,” kisahnya sambil menerawang.
Saat itu Soekarno disambut para tokoh Aceh diantaranya, Gubernur Militer Aceh, Teungku Daud Beureu’eh,  Panglima Divisi X, Kolonel Hussein Joesoef, para perwira militer Divisi X, alim ulama dan para tokoh masyarakat bahkan ratusan pelajar Sekolah Rakyat (SR) dan malam harinya diselenggarakan leising (rapat umum) akbar.
Dalam rapat itu Soekarno yang dikenal singa podium Asia dalam pidatonya membakar semangat juang rakyat di Keresidenan Bireuen apalagi pada saat itu mengatakan bahwa Belanda telah menguasai kembali Sumatera Timur (Sumatera Utara).
Setelah itu Kemiliteran Aceh, dari Banda Aceh dipindahkan ke Juli Keude Dua di bawah Komando Panglima Divisi X, Kolonel Hussein Joesoef dengan membawahi  Komandemen Sumatera, Langkat dan Tanah Karo. “Dipilihnya Bireuen sebagai pusat kemiliteran Aceh, lantaran Bireuen letaknya sangat strategis dalam mengatur strategi militer untuk memblokade serangan Belanda  di Medan Area yang telah menguasai Sumatera Timur (sekarang Sumut-red),” kisah Yusuf Tank.
Lalu Pasukan tempur Divisi X Komandemen Sumatera silih berganti dikirim ke Medan Area. Termasuk diantaranya pasukan tank di bawah pimpinan dirinya, yang memiliki puluhan unit mobil tank hasil rampasan dari tentara Jepang. Dengan tank-tank itulah pasukan Divisi X mempertahankan Republik ini di Medan Area dan juga di zaman Revolusi 1945,  Pendidikan Perwira Militer  (Vandrecht),  pernah dipusatkan di Juli Keude Dua sekarang ini. “Aceh yang tak pernah mampu dikuasai Belanda dan Aceh juga adalah daerah modal Indonesia,” katanya penuh emosi.
Setelah seminggu berada di Bireuen, kemudian Soekarno bersama Gubernur Militer Aceh Abu Daud Beureueh berangkat ke Kutaradja (Banda Aceh) untuk mengadakan pertemuan dengan para saudagar Aceh di Hotel Atjeh, di sebelah selatan masjid Raya Baiturrahman.
Dalam pertemuan itu Soekarno ‘merengek’ kepada masyarakat Aceh untuk menyumbang dua pesawat terbang untuk negara. Siang itu Presiden Soekarno sempat tidak mau makan sebelum menadapat jawaban dari Tgk Daud Beureu’eh. Setelah berembug lagi para saudagar Aceh lalu diputuskan bersedia menyumbang dua pesawat terbang sebagaimana diminta Soekarno, lalu masyarakat Aceh dengan cepat mengumpulkan uang yang akhirnya mampu dibeli dua peswat yaitu Seulawah I dan Seulawah II.
Dua peswat itu juga merupakan cikal bakal lahirnya pesawat Garuda Indonesia Airways dan Radio Rimba Raya di Kawasan Kabupaten Bener Meriah. Radio Rimba Raya yang mengudara ke seluruh penjuru dunia, dengan menggunakan beberapa bahasa asing juga merupakan cikal bakal RRI sekarang ini. “Dan itu juga bagian dari radio perjuangan dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia,” pungkas mantan pejuang Letnan Yusuf Tank. (Narit / AM Gandapura)